Mataharisemesta’s Blog











{Mei 11, 2009}   Geng SMA (bahan Kuliah)

http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=7346

Geng Sekolah Harus Dibubarkan!

Thursday, 22 November 2007 21:20 WIB

Terkuaknya kasus

kekerasan yang dilakukan geng Gazper SMAN 34 Jakarta dinilai Dinas Pendidikan

Menengah dan Tinggi (Dikmenti) Pemprov DKI Jakarta dapat membahayakan siswa.

Seluruh organisasi intra sekolah di luar OSIS pun harus dibubarkan.

WASPADA Online

Terkuaknya kasus

kekerasan yang dilakukan geng Gazper SMAN 34 Jakarta dinilai Dinas Pendidikan

Menengah dan Tinggi (Dikmenti) Pemprov DKI Jakarta dapat membahayakan siswa.

Seluruh organisasi intra sekolah di luar OSIS pun harus dibubarkan.

“Seperti geng dan sejenisnya harus dibubarkan. Tapi organisasi seperti PMR dan Pramuka

tetap harus diawasi,” ujar Humas Dikmenti DKI Ahmad Yusen di Jakarta pekan

lalu.

Menurut Yusen,

Dikmenti telah mendatangi SMAN 34 di Pondok Labu Jakarta untuk mengusut kasus

dan mencari data yang lebih akurat. Pihak sekolah pun sudah meminta Dikmenti

untuk meninjau kasus penganiayaan kakak kelas terhadap adik kelas tersebut. Ditambahkan

Yusen, pihaknya menilai kelakuan geng  Gazper hanyalah tindakan siswa semata.

Sehingga kepala sekolah tidak perlu bertanggung jawab.

“Dari pihak

Kepala sekolah  sudah melakukan pembinaan dengan baik, seperti mengawasi sejak

masuknya siswa ke sekolah pada pagi hari hingga pulang sekolah,” ujar

Yusen.

Dilanjutkan

Yusen, tindakan siswa yang tergabung dalam geng Gazper tersebut tidak dapat

digeneralisir dilakukan oleh semua siswa.

Sebelumnya orang tua

siswa Mochammad Fadil (16), Hery Sirat, meminta Kepala sekolah bertanggung

jawab terhadap penganiayaan yang dilakukan lima siswa senior terhadap anaknya

pada 17 Agustus lalu usai sekolah. Akibat penganiayaan tersebut, tangan kiri

Fadil patah. Kelima pelaku

penganiayaan tersebut kini diperiksa secara intensif pihak kepolisian. (m33/ant)

(aa)

Waspada Online

http://www.waspada.co.id

Menggunakan Joomla!

Generated: 31 March, 2009, 06:24

http://www.liputan6.com/news/?id=161329&c_id=2

24/06/2008 23:43 – Kasus Pengeroyokan
Video Geng Sekolah Beredar di Balikpapan

Liputan6.com, Balikpapan: Video kekerasan yang melibatkan sejumlah siswi sebuah sekolah di Balikpapan, Kalimantan Timur, beredar di masyarakat. Gambar penganiayaan yang diduga dilakukan para pelajar siswi sekolah menengah kejuruan ini terekam oleh sebuah kamera telepon genggam. Video berdurasi sekitar satu menit ini memperlihatkan perkelahian dua siswi yang ditonton pelajar lain.

Video ini diyakini milik siswi Balikpapan karena dikuatkan dengan nomor polisi sepeda motor, yakni KT 4618 LF. Video ini ditemukan dari telepon genggam salah satu siswi SKM yang terjaring razia Badan Narkotika, Selasa (24/6) pagi. Sejumlah siswi yang ditemuiSCTV enggan mengakui hasil rekaman ini.

Sementara Kepala SMK Kartika yang dikonfirmasi menuding rekaman video itu dilakukan pihak lain untuk mendiskreditkan sekolahnya. Meski menemukan adegan kekerasan, polisi hingga kini belum melakukan pengusutan. Rekaman tersebut hanya dikembalikan ke pihak sekolah.(IAN/Imron Rosyadi)
http://www.beritajakarta.com/v_ind/berita_detail.asp?idwil=4&nNewsId=32291

28-01-2009

54 Anggota Gank Sekolah Diskorsing

Dunia pendidikan di DKI Jakarta kembali tercoreng dengan munculnya gank sekolah di SMUN 85 Srengseng, Jakarta Barat. Gank ini diketahui telah melalukan tawuran antar pelajar pada tanggal 11 Januari lalu dengan menyerang sebuah sekolah di Jakarta Selatan. Saat ini 54 siswa yang melakukan tawuran itu telah dikenakan sanksi administratif berupa skorsing.

Untuk mengantisipasi tindakan anarkis dan tawuran antar pelajar itu kembali terjadi, Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat mengancam akan mengeluarkan para siswa yang menjadi anggota sebuah gank sekolah. Selain itu, para guru dan kepala sekolah diminta terus meningkatkan pengawasan, apabila ditemukan gank di sekolah masing-masing harus segera di bubarkan dan anggotanya harus diberi sanksi.

“Beberapa waktu lalu saya mendapat laporan munculnya sebuah gank sekolah yang melakukan penyerangan ke sekolah lain. Dan saat ini mereka sudah kita skorsing. Kita melarang keras siswa membentuk gank di sekolah, ke depan kalau ada siswa yang menjadi anggota gank tentunya akan langsung kita keluarkan, dan perkumpulan gank itu akan kita bubarkan,” tegas Abdul Hamid, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat, saat membubarkan Gank Inside 85 di SMUN 85 Srengseng, Jakarta Barat, Rabu (28/1).

Menurut Abdul Hamid, larangan terhadap gank sekolah sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun silam. Namun akhir-akhir ini kembali muncul, sehingga Sudin Pendidikan Jakarta Barat merasa perlu untuk lebih meningkatkan pengawasan. “Untuk mencegah hal itu terulang, kami akan meningkatkan pengawasan,” katanya.

Bahkan dalam pengawasan kali ini, Sudin Pendidikan Jakarta telah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian. Sehingga, jika didapati ada siswa yang melakukan tawuran atau membentuk sebuah gank akan langsung ditindak secara hukum. “Kita saat ini sudah bekerjasama dengan kepolisian untuk mencegah munculnya kembali gank sekolah di Jakarta Barat,” terangnya.

Hamid menjelaskan, kasus gank sekolah di Jakarta Barat muncul kembali pada pertengahan Januari lalu. Kasus yang pertama kali di tahun 2009 ini, terjadi di SMUN 85 Srengseng. Tanpa sepengetahuan guru, beberapa siswa mendeklarasikan sebuah gank dengan nama Inside 85 ini tiba-tiba melakukan penyerangan ke sebuah sekolah di wilayah Jakarta Selatan dengan berkonvoi menggunakan sepeda motor.

Kepala Sekolah SMU N 85 Srengseng, Endang Hidayat menjelaskan, siswa yang tergabung dalam gank Inside 85 sebanyak 54 orang. Setelah dilakukan penyelidikan dan terbukti melakukan penyerangan pada 11 Januari lalu, ke 54 siswa tersebut langsung dikenai sanksi skorsing. Skorsing dikenakan beragam, yang terbukti mendalangi penyerangan diskorsing dua minggu, sedang yang ikut-ikutan diskorsing satu minggu. “Sebanyak 43 siswa yang diskorsing saat ini telah kembali masuk, sedang 11 lainya yang kena skorsing 2 minggu belum,” jelasnya.

Menurut keterangan Alvin, siswa kelas XI IPS-1 SMU 85, gang Inside 85 sering melakukan memaksa kepada siswa lain untuk menjadi anggota gank. Bahkan, pemaksaan tersebut tidak jarang disertai dengan ancaman. “Saya sering diancam agar masuk gank, tapi saya selalu menolak,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Bina Mitra Polres Jakbar, AKBP Suyitno mengatakan, untuk mengantisipasi terulangnya kejadian tawuran pelajar, saat ini antara Polres Jakarta Barat dengan Sudin Pendidikan Jakarta Barat telah menyepakati perjanjian kerja sama untuk menganggulangi kenakalan remaja usia sekolah. Dan sosialisasi terkait kenakalan remaja ini akan terus dilakukan di sekolah-sekolah, materinya mulai dari persoalan narkoba, tawuran, dan hal-hal negatif lainya. “Kita selalu memberikan dukungan penuh kepada Sudin Pendidikan dalam pembinaan terhadap para siswa sekolah di Jakarta Barat,” ujarnya.

Penulis: purwoko

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/12/time/163928/idnews/851499/idkanal/10

Senin, 12/11/2007 16:39 WIB
Dikmenti DKI: Geng Sekolah Harus Dibubarkan!
Andi Saputra – detikNews

Jakarta – Terkuaknya kasus kekerasan yang dilakukan geng Gazper SMAN 34 Jakarta dinilai Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) Pemprov DKI Jakarta dapat membahayakan siswa. Seluruh organisasi intra sekolah di luar OSIS pun harus dibubarkan. “Seperti geng dan sejenisnya harus dibubarkan. Tapi organisasi seperti PMR dan Pramuka tetap harus diawasi,” ujar Humas Dikmenti DKI Ahmad Yusen saat dihubungi wartawan melalui ponselnya, Senin (12/11/2007). Menurut Yusen, Dikmenti telah mendatangi SMA 34 di Pondok Labu, Jakarta Selatan, untuk mengusut kasus dan mencari data yang lebih akurat. Pihak sekolah pun sudah meminta Dikmenti untuk meninjau kasus penganiayaan kakak kelas terhadap adik kelas tersebut. Ditambahkan Yusen, pihaknya menilai kelakuan geng Gazper hanyalah tindakan siswa semata. Sehingga kepala sekolah tidak perlu bertanggung jawab. “Dari pihak kepala sekolah sudah melakukan pembinaan dengan baik, seperti mengawasi sejak masuknya siswa ke sekolah pada pagi hari hingga pulang sekolah,” ujar Yusen. Dilanjutkan Yusen, tindakan siswa yang tergabung dalam geng Gazper tersebut tidak dapat digeneralisir dilakukan oleh semua siswa. Sebelumnya orangtua siswa Mochammad Fadil (16), Hery Sirat, meminta Kepala Sekolah bertanggung jawab terhadap penganiayaan yang dilakukan 5 siswa SMA 34 terhadap anaknya pada 17 Agustus 2007 usai sekolah. Akibat penganiayaan tersebut, tangan kiri Fadil patah. Kelima pelaku penganiayaan tersebut kini diperiksa secara intensif pihak Polsek Cilandak.(nik/sss)

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0711/14/sh06.html

Lima SMA Terindikasi Punya Geng Sekolah

Oleh
Andreas Piatu

Jakarta-Lima sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta terindikasi kuat memiliki geng sekolah seperti di SMA 34 Jakarta Selatan.

Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta M Margani kepada SH, Selasa (13/11) siang.
Ditanya nama sekolah yang benar-benar ada gengnya, Margani enggan untuk mengungkapkan. “Saya tidak perlu ungkapkan karena akan berdampak kepada para siswa,” ujarnya.
Menyinggung kasus di SMA 34 Jakarta Selatan, Margani yang dihubungi SH, Rabu (14/11) siang, mengatakan kelima siswa SMA 34 Jakarta Selatan yang diduga menganiaya siswa kelas 1 SMA 34 Muhammad Fadil akan dikeluarkan dari sekolah. ”Geng Gasper dibubarkan,” katanya.
Mengenai proses hukum terhadap lima siswa, kata Margani, sepenuhnya diserahkan kepada aparat kepolisian. Sementara itu, para siswa peserta jajaran guru dan sekolah secara bulat menyatakan ingin mengembalikan sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar dan bukan tempat geng-gengan.
Meski demikian, sekolah yang ada gengnya akan dibereskan dan ditertibkan. Mengenai tiga sekolah yang masih terindikasi, Margani hanya mengatakan pihak sekolah sedang mempelajari. “Kalau benar-benar ada geng, pasti ditertibkan karena sekolah bukan untuk membentuk geng-geng,” katanya.
Kepala sekolah dari sekolah-sekolah ini sudah diingatkan untuk mengawasi dan menertibkan. Sekolah-sekolah di luar itu pun harus terus melalukan pemantauan dan pengawasan terhadap aktivitas para siswa. Bila ada yang tidak beres harus segera diselesaikan dan jangan sampai berkembang besar.
Sementara itu, Gubernur Jakarta Fauzi Bowo secara terpisah mengatakan geng harus dibersihkan dari sekolah. “Saya dan Kapolda Metro Jaya sudah komit untuk menertibkan dan membersihkan bila ada geng dalam sekolah,” kata Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo.
Bila geng-geng itu terjadi di luar sekolah, masyarakat perlu menginformasikan agar segera dihentikan dan ditetibkan. “Tidak boleh ada geng sekolah. Sekolah bukan untuk bentuk geng-geng. Geng sekolah harus dihentikan dan dibersihkan,” kata Foke.
Seperti dilansir media elektronik maupun cetak, geng sekolah terungkap ketika terjadi kasus penganiayaan siswa kelas I SMA 34 Jakarta Selatan, Muhammad Fadhil Sirath, sehingga patah tulang. Dugaan sementara, Sirath dianiaya seniornya dari kelas III yang tergabung dalam geng Gazper.
Akibat penganiayaan yang dilakukan anggota geng Gazper, Fadhil sebagai korban mengadukan kasus ini ke polisian. Saat ini, sudah ada empat siswa SMA 34 diperiksa pihak kepolisian sehubungan dengan kasus penganiayaan Sirath. n

http://www.lintasberita.com/Hiburan/Gang_Siswi_Sekolah_3_-_Hiii—_Sudah_Bersujud_Minta_Maaf_masih_Disiksa

Gang Siswi Sekolah (3) – Hiii… Sudah Bersujud Minta Maaf masih Disiksa

Malang – Sadis. Itulah mungkin komentar paling pas untuk menggambarkan tersangka, Vina (19).Bagi teman-teman sekolahnya, Vina adalah sosok the Killer. Tidak ada satupun siwa perempuan yang berani melawan atau tidak menuruti perintah dan permintaanya. Aki memalak yang dilakukan Vina pun lancar. Hasil memalak itu dipergunakan untuk beli rokok dan miras kegemarannya. “Siapa yang berani sama dia?” kata Dian Mujiati singkat, Sabtu (29/11/2008). Ketakutan teman-teman Vina bukan tanpa alasan. Vina pernah bercerita smpat dipenjara di LP Wanita Sukun Kota Malang akibat pernah menusuk teman ceweknya dengan cutter. “Akibatnya dia (Vina) masuk penjara. Itu yang membuat dia kian serem di mata kami,” jelas korban. Rupanya penjara tidak membuatnya jera. Ini terbukti Vina masih berani melakukan penganiayaan pada Dian dengan cara menyiksa dan dipertontonkan di depan 6 temanya. Sedangkan sosok Lia adalah salah satu anggota gank cewek di salah satu sekolah swasta yang ada di Malang. Akibat dari terbongkarnya gank tersebut Lia dikeluarkan dan masuk di SMA Cokroaminoto

http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/16/19290990/gang.belimbing.gang.cinta.juga.geng.nero..

NAMA gang di kota kecamatan Juwana, 12 kilometer timur pusat pemerintahan kabupaten Pati, Jawa Tengah, sebenarnya Belimbing. Namun lebih dikenal dengan gang cinta (GC).Gang itu sendiri panjangnya lebih dari 500 meter. Kanan kirinya berupa tembok tebal bagian belakang perumahan penduduk, rata-rata setinggi lebih dari tiga meter, yang sebagian besar dihuni enis tertentu.

Gang itu juga bersih, sudah dicor beton, dan bisa dilalui mobil meski tak bisa untuk berpapasan. Sebagian besar tembok bercat putih, lumayan bersih dan hanya ada sedikit corat-coret di tembok. Hanya saja, sangat jarang warga setempat maupun pengguna jalan melewati gang tersebut. Mereka memilih melalui dua jalan raya yang sejajar dengan GC.

Kondisi itulah yang biasa dimanfaatkan untuk pacaran anak-anak remaja, sehingga gang itu juga dikenal sebagai Gang Cinta. Akan tetapi, tak sedikit pula remaja tanggung yang memanfaatkan gang itu untuk lokasi minum minuman keras yang aman!

Kota Kecamatan Juwana dikenal sebagai pusat pasar beras, industri kuningan, pelabuhan antarpulau, dan tempat pendaratan ikan maupun tempat penjualan ikan (TPI) terbesar nomor dua di Jateng, serta berada di jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya.

Di GC itulah, geng (gerombolan) neko-neko dikeroyok (Nero), pekan lalu diduga tengah memelonco salah satu calon anggota yang bernama Ls. Perpeloncoan dilakukan dengan menendang dan memukul menggunakan tangan dan Adegan itu sempat direkam dalam bentuk video oleh seorang calon anggota Geng Nero (GN) dan diserahkan kepada orangtuanya. Kemudian diinformasikan kepada wartawan cetak dan elektronik yang kemudian meledak, tersiar ke mana-mana.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Pati, Sulkhan dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Senin (16/6), untuk sementara ada empat anggota Geng Nero yang diamankan, yaitu Rat, My, Tk, Rat. Dua di antaranya adalah siswi SMA Negeri Batangan, seorang siswi SMA Negeri Juwana, dan seorang siswi SMA Diponegoro Juwana.

Polres Pati masih memeriksa para tersangka penganiayaan atas LS, sejumlah saksi, sejumlah orang tua, dan mendatangkan personil dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pati. .

Menurut Purwaningsih dan Satriyo, dua guru SMA Negeri Juwana, salah satu muridnya yang menjadi anggota GN bernama PAP atau biasa dipanggil Tk, sering ditegur dan diperingatkan agar tidak berpakaian ketat, karena merupakan salah satu larangan pihak sekolah. “Anaknya tergolong cantik, rambutnya selalu di-rebonding dan setiap berangkat sekolah diantar ibunya naik motor. Dalam kegiatan belajar dan sepak terjang di kelas biasa saja. Kami tidak menduga samasekali jika dia menjadi anggota GN dan ikut menganiaya LS,” tutur Purwaningsih yang keberatan untuk diambil gambarnya.

Setelah memperoleh laporan dari Polsek Juwana dan pengakuan dari Tk sendiri, akhirnya Kepala Sekolah SMA Negeri Juwana terpaksa mengembalikan Tk kepada orang tuanya, sehingga yang bersangkutan sudah tidak mungkin bisa diterima lagi sebagai murid SMA Negeri Juwana. Meski demikian, masih terbuka kemungkinan ia melanjutkan ke sekolah lain, karena dalam proses pengembalian kepada pihak orang tua tidak disertai embel-embel tertulis dipecat.

Berdasarkan pengakuan Tk kepada Purwaningsih, anggota GN marah besar ketika salah satu anggotanya yang bernama My dicap pelacur, sehingga terjadilah aksi penganiayaan terhadap Ls. “Jika pengakuan lain, penganiayaan yang dilakukan anggota GN merupakan salah satu bentuk penerimaan anggota baru (perpeloncoan), kami tidak tahu menahu,” tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini Tk diasuh ibunya yang bernama Ny Sukarsih, ayahnya dikabarkan merantau dan sudah pisah ranjang. Ia sudah punya pacar, namun karena tersangkut kasus penganiayaan ini, sang pacar yang juga warga Juwana memilih memutuskan hubungan.

Menurut informasi yang diperoleh Purwaningsih dan Satriyo, GN sudah muncul ketika para anggotanya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekarang mereka tersebar di berbagai SMA di berbagai daerah di Pati maupun kota lain.

Seorang pemuda yang bekerja di salah bengkel motor dan seorang remaja yang bekerja di salah satu warung makan di kota Juwana, sudah tidak asing lagi mendengar nama GN maupun GC.

Meski demikian, aparat keamanan di Juwana yang pernah diusulkan menjadi kota Administrastif bersama Cilacap ini belum pernah melakukan gebrakan untuk menindak tegas. Bahkan pihak kepolisian belum bisa membeberkan secara faktual, khususnya yang menyangkut GN. Seperti bentuk kegiatan, pimpinan, latar belakang, dan konon ada yang merasa dirugikan jika GN ini dibongkar total. “Kami tetap akan mengusut kasus ini secara tuntas,” janji Kepala Polres Pati, melalui Kasatreskrim Sulkhan.

http://koranpendidikan.com/artikel-1192-Fenomena-Kekerasan-Geng-Sekolah.html

Fenomena Kekerasan Geng Sekolah

Selasa, 22 Juli 2008 07:35:42 – oleh : redaksi

Jika kita menyaksikan tayangan televisi tentang kekerasan Geng Nero yang dimotori empat remaja putri asal kota kecil Pati, Jawa Tengah, kita yang bernurani pasti akan mengurut dada dalam-dalam. Tontonan sadis itu menegaskan, kekerasan tidak saja merupakan bakat yang melekat dalam diri setiap orang, melainkan kekerasan adalah perilaku yang masih lestari di sekitar kita.
Kekerasan, termasuk yang melibatkan atau dilakukan anak-anak remaja, ternyata tak menjadi kelakuan anak-anak gedongan di kota-kota besar. Anak-anak muda di kota kecil di tingkat kecamatan pun dengan (sok) gagah berani bisa mempertontonkannya.
Seperti diberitakan berbagai media, beberapa siswi SMP membentuk kelompok bernama Geng Nero. Kelompok itu terungkap melakukan penganiayaan yang tergolong kejam terhadap sesama siswi sebaya hanya karena—menurut pengakuan mereka yang ditangkap polisi setempat—merasa tersaingi dalam memperlihatkan gaya berpakaian sebagai model cewek masa kini.
Kita bisa melihat dari rekaman video bagaimana seorang calon anggota geng menjalani siksaan, berupa pukulan, penarikan rambut, tendangan, dan ludahan dari para anggota geng itu. Di sebuah jalan kecil berjuluk ”Gang Cinta” di Kota Pati yang jarang dilalui orang itu, bangsa ini disuguhi suatu tontonan yang mengingatkan kita pada aksi kekerasan geng motor atau bahkan kekerasan yang dilakukan sejumlah praja IPDN beberapa waktu lalu.
Pertanyaannya, benarkah ini sebuah realitas dari anak-anak remaja sekarang? Mengapa sekelompok remaja putri bisa membentuk sebuah geng seperti itu? Di manakah peran orang tua dan fungsi guru untuk mengawasi mereka? Apakah moralitas dan kepekaan bangsa kita akan kedamaian sudah pupus hingga remaja putri pun tak luput melakukan kekerasan?
Untuk mengetahui penyebab kekerasan Geng Nero, bisa dicermati dari berbagai faktor, mulai faktor psikologi, sosiologi, politik dan ekonomi. Namun kita tentu tidak ingin membahasnya terlalu ilmiah hingga pada akhirnya membuat bangsa ini tak mampu memahaminya secara sederhana. Menurut saya, setidaknya ada tiga alasan kenapa sekelompok siswa membentuk geng kekerasan.
Pertama, anak-anak siswa sekarang ini mengalami tekanan hidup yang lebih keras dari generasi sebelumnya ketika menghadapi kompetisi di sekolah maupun tugas pelajaran dan ujian yang terlalu memeras pikiran. Hal ini memang tidak bisa dijadikan alasan bagi siswa-siswa itu mencari pelarian tercela dengan membentuk geng yang diwarnai kekerasan.
Kedua, para siswa yang sarat fantasi di era cyber ini tepersonifikasi memiliki eksistensi baru dalam perilaku tertentu yang menemukan identitasnya pada corak tindak kekerasan. Mereka lalu terbentuk melalui asa yang terasah lewat hobi yang cenderung asosial. Berbagai bentuk games yang ada di rumah dan dalam pergaulan di peer group (teman sebaya) atau melalui Play Station, atau download dari portal (wiesite) telah menyandera diri mereka menjadi pribadi-pribadi asing yang anomi.
Ketika asosial itu terinternalisasi dan membentuk pribadi yang cenderung eksklusif, yang tampak kemudian adalah antipersahabatan dengan sesama. Cuek dan miskin empati terhadap orang lain. Kendati tidak secara langsung berkait, sangat mungkin kelompok seperti Geng Nero bersumber dari pemahaman konsep diri serta lingkungan yang asosial tersebut.
Tak hanya itu, deretan aksi kekerasan tersebut dapat ditonton langsung lewat tayangan televisi yang membuat bulu kuduk kita bergidik. Tak ketinggalan, aksi kekerasan sekelompok remaja putri yang bergabung dalam Geng Nero itu juga terekam dalam sebuah kamera video dan dapat disimak khalayak melalui pemberitaan pelbagai media.
Hikmah yang bisa dipetik oleh orang tua atau pendidik atas kecenderungan perilaku kekerasan para siswa, pihak sekolah senyatanya memegang kendali untuk mengarahkan mereka pada berbagai kegiatan yang positif. Sekolah hendaknya memberikan bimbingan rutin sekaligus pengawasan terus-menerus terhadap segala aktivitas yang dilakukan geng sekolahnya.
Selain sekolah, orangtua juga tetap bertanggung jawab agar selalu memotivasi anak-anaknya untuk membentuk atau bergabung dengan geng yang mencerminkan perilaku positif. Maka para orangtua senyatanya proaktif sebagai partner dan mengarahkan anak-anak mereka dalam aneka pergaulan sosial.
Geng sekolah sesungguhnya bisa menjadi ajang curhat, diskusi, atau belajar mencari solusi atas permasalahan anggotanya sehingga masing-masing mengenal karakternya sendiri maupun orang lain. Geng yang demikian otomatis akan menjadi produktif serta justru meningkatkan prestasi belajar mereka.

TATIK CHUSNIYATI
Pengajar Ma’had Abdurrahman bin ‘Auf Malang

http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/02/17/1/193413/polisi-ringkus-2-komplotan-geng-cewek-di-kupang

Polisi Ringkus 2 Komplotan Geng Cewek di Kupang

Selasa, 17 Februari 2009 – 08:39 wib

KUPANG – Kepolisian Sektor Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur menangkap dua komplotan pelajar cewek menamakan diri geng sekolah. Anggota kedua kelompok geng sekolah ini berasal dari tiga SMU terkenal dan terlibat perkelahian.

Kelompok Anastasia berasal dari Sekolah Menengah Atas Negeri I Kupang, sedangkan geng Aroyo berasl dari SMA Negeri 5 dan SMK Negeri 1 Kupang.

“Kelompok Anastasia yang berjumlah sembilan orang dan kelompok Aroyo yang berjumlah tiga orang sudah diamankan polisi. Sampai saat ini, jumlah siswa yang dimintai keterangan sebanyak 23 orang,” kata Kapolsek Oebobo, Ajun Komisaris Polisi Jance Seran, Selasa (17/2/2009).

Menurutnya, penangkapan dilakukan setelah beredar video perkelahian antar anggota geng tersebut. Video berdurasi dua menit tersebut direkam menggunakan kamera telepon selular oleh seorang siswa yang kebetulan menyaksikan perkelahian tersebut.

Menurut Jance, selama Februari 2009, dua komplotan itu telah terlibat dua kali perkelahian. Perkelahian pertama terjadi pada 4 Februari di kompleks perumahan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) NTT di Kelurahan Oetete. Perkelahian kedua terulang kembali pada 7 Februari di kompleks SD Negeri Oetete III, tidak jauh dari kompleks BPKP.

Kepala SMA Negeri I Kupang Marthen Kiki mengatakan, pemicu bentrokan antargeng adalah salah paham.”Awalnya mereka kebut-kebutan dengan sepeda motor, ada yang kena sengol kemudian terjadi perkelahian,” katanya.

Menurutnya, pihak sekolah telah mengambil kebijakan untuk memberikan sanksi disiplin bagi kelompok geng Anastasia dengan melarang mereka mengikuti aktivitas belajar di sekolah selama beberapa waktu.

“Karena perkelahian itu terjadi di luar kompleks sekolah, sehingga bukan menjadi tanggung jawab sekolah. Kami serahkan kepada polisi,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Thobias Uly meminta aparat kepolisian untuk mengusut kasus yang melibatkan para pelajar perempuan tersebut sampai tuntas. “Sekolah silakan mengambil tindakan sesuai degan aturan yang berlaku,” ujarnya. (fit)

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/23/03545576/cerita.lahirnya.geng.nyik.nyik

Cerita Lahirnya Geng Nyik Nyik

KAMIS, 23 OKTOBER 2008 | 03:54 WIB

TULUNGAGUNG, KAMIS – Geng Nyik Nyik yang beranggota segerombolan siswi brutal ternyata bukan barang baru di SMAN 1 Gondang, Kabupaten Tulungagung. Seorang alumni sekolah itu mengungkapkan cikal bakal geng itu sudah bercokol sejak 2005.

Rizki, alumnus itu, menuturkan, saat ia lulus dari SMAN 1 Gondang pada 2005, sudah ada geng yang gemar berkelahi, berbuat onar dan melakukan kekerasan terhadap adik kelasnya. Namun, beda dengan sekarang, waktu itu anggota geng bukan cuma perempuan, tetapi juga laki-laki.

”Kalau sekarang anggotanya cewek-cewek,” kata Rizki saat ditemui Rabu (22/10).

Dituturkannya, selalu saja ada keonaran yang dilakukan geng ini. Tetapi paling banyak adalah mengincar adik kelas. Geng yang sebagian besar anggotanya siswa kelas III, sebagian lagi kelas II, kerap minta uang kepada adik kelasnya secara paksa atau melakukan ’titah’ ketua geng.

”Kalau tidak dituruti pasti dikeroyok,” katanya.

Perihal nama Nyik Nyik, seorang siswa kelas I, sebut saja namanya Reno, diambil dari julukan sang pemimpin geng, yaitu Prs, siswa III warga Desa Kedungwaru. Di geng ini ada juga pemimpin kelas II yang ’dijabat’ tiga orang, yaitu Jvt, Ppt dan Lli.

Reno mengaku pernah menyaksikan pengoyokan oleh Geng Nyik Nyik.  “Waktu itu ada pertengkaran mulut antara Jvt dengan siswa kelas I. Namun saat mengeroyok langsung dikerubuti siswa lainnya,” ungkap Reno.

Secara fisik, kata Reno, susah membedakan anggota geng ini dengan siswa yang tidak terlibat, karena mereka tidak mengenakan tanda-tanda khusus. Namun, hampir bisa dipastikan geng ini selalu bergerombol untuk kegiatan apa pun di luar kelas, baik itu makan di kantin ketika istirahat atau kabur dari kelas alias membolos.

Soal kekompakan, Geng Nyik Nyik tidak perlu diragukan. Seorang anggota geng yang melanggar aturan sekolah tidak perlu terlalu khawatir, karena teman-temannya pasti akan melindungi.
”Jadi kalau ada yang dimarahi guru, yang lainnya membela supaya tidak dihukum,” ceritanya.

Aksi kekerasan itu bukannya tanpa jejak. Saat ini beredar rekaman video soal penamparan oleh Jvt terhadap seorang siswa kelas I, yaitu Vt, pada 15 Oktober 2008.  Rekaman yang dibuat menggunakan kamera ponsel dan berdurasi 2 menit 28 detik itu terlihat jelas bagaimana tangan Jvt menggampar wajah Vt. Dalam rekaman lain yang berdurasi 59 detik, Jvt memelonco seorang siswi kelas I.

Sebenarnya, petugas Polsek Gondang dan Polres Tulungagung, langsung mendatangi sekolah dan melakukan pengumpulan informasi, Rabu (22/10). Namun karena sedang ada ulangan, para polisi itu hanya sebentar di sana, lalu pergi. Kapolsek Gondang, AKP Mujiharto kepada wartawan mengatakan, hasil penyelidikan menyimpulkan Geng Nyik Nyik tidak pernah ada.

”Dan, itu juga bukan aksi kekerasan seperti Geng Nero yang ramai diberitakan di Jawa Tengah,” kata Mujiharto.

Menurut dia, insiden yang terjadi hanya perkelahian antarsiswa dan itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan oleh sekolah. Di hadapan para orangtua yang didatangkan ke sekolah, para siswa yang terlibat diminta membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perkelahian itu.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Slamet Riadi mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, Geng Nyik-Nyik tidak ada. Ia malah menyalahkan wartawan yang dianggapnya membesar-besarkan persoalan. Diberitakan sebelumnya, kasus mirip Geng Nero di Pati Jawa Tengah itu terungkap ketika dua siswi kelas I, Oi dan Vt, mengadu kepada orangtua mereka bahwa telah menjadi korban aksi kekerasan Geng Nyik Nyik. Orangtua kedua korban itu kemudian mendatangi sekolah dan minta membubarkan aktivitas Geng Nyik Nyik atau melapor polisi.

“Saya tidak tahan lagi diperlakukan kasar, karena itu saya lapor orang tua,” ujar Oi kepada wartawan.

Sebagai bukti, Oi menunjukkan rekaman penamparan di kamar mandi sekolah itu. “Ada teman yang diam-diam merekam aksi ini, dan menjadi bukti di sekolah ini ada sekelompok siswi yang kerap melakukan kekerasan,” paparnya.

Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Tulungagung, Imam Turmudzi, berbeda pendapat dengan polisi. Ia malah minta polisi mengusut tuntas aksi kekerasan yang mencoreng dunia pendidikan daerah itu. “Harus diusut sampai tuntas, jangan ditutup-tutupi. Ini menjadi tugas dinas terkait dan kepolisian. Sekolah harus membuka diri,” ujarnya

Menurut politisi PKB ini, seorang pelajar tidak pantas bertingkah seperti preman. ”Kalau memang masih bisa dibina, ya dibina dengan baik. Kalau tidak, hukum yang bicara. Dinas pendidikan harus bertanggung jawab juga,” katanya.ais

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29465&Itemid=28

Sabtu, 28 Februari 2009
Dugaan kekerasan geng pelajar di Kudus (2-habis)
’Kalau tak nge-geng justru tak normal’

DUGAAN adanya enam anggota geng pelajar di SMPN 3 Kudus, yang melakukan tindakan penganiayaan terhadap Nika (12) siswi SMPN 3 Kudus, cukup menarik perhatian banyak kalangan. Psikolog pendidikan dari Universitas Muria Kudus (UMK), Susilo Raharjo menilai ada banyak faktor yang mengakibatkan remaja melakukan hal seperti itu.

’’Masa remaja merupakan saatnya mencari identitas diri. Atau kalau dalam bahasa psikologinya yakni masa stroom drunk (mabuk kepayang-red),” ujar Kepala Prodi Bimbingan Konseling FKIP UMK Kudus ini.
Dikatakan, dalam masa tersebut, emosi seorang remaja cenderung labil. Perubahan fisik yang ada pada diri mereka mengakibatkan ada perubahan-perubahan sikap yang cukup berbeda dibanding saat mereka kecil.

Dalam masa inilah, pengaruh dari lingkungan luar diri mereka seperti keluarga dan sekolah, merupakan faktor terpenting yang berpengaruh pada sikap mereka. Celakanya, tak semua pengaruh lingkungan tersebut menguntungkan.

’’Kita tahu saat ini berbagai macam tontonan di televisi yang tak mendidik dengan gampang dinikmati remaja. Dan hal tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan mental mereka. Alasan tersebut memang nampak kuno, tapi itulah kenyataannya,” tandasnya.

Wajar
Sementara, terkait kecenderungan munculnya geng-geng di kalangan pelajar, Susilo mengatakan hal tersebut cukup wajar, bahkan merupakan hal yang normal. Sebab, jika seorang remaja cenderung menyendiri dan asosial, justru hal tersebut yang membahayakan.

’’Sangat wajar dan normal jika remaja yang masih berstatus pelajar kemudian membentuk kelompok semacam geng guna mengekspresikan diri. Hal yang tidak wajar justru terjadi pada siswa yang penyendiri,” tuturnya.

Menurutnya, keberadaan seorang dalam sebuah kelompok merupakan ajang pembuktian eksistensi diri mereka. Jika masuk di sebuah kelompok, seorang remaja merasa mendapat pengakuan dan tempat di sebuah lingkungan.

Hanya saja, kecenderungan untuk membentuk identitas kelompok semacam geng, harus disalurkan secara positif. Jangan sampai, keberadaan geng berekses pada tindakan negatif seperti kasus penganiayaan pada temannya yang lain.

“Kalau sudah menjurus tindak kekerasan yang mengarah ke kriminal, tentu ada yang salah dalam kelompok tersebut,” tukasnya. Pada titik ini, peran keluarga, sekolah, maupun masyarakat sangatlah penting. Masing-masing komponen tersebut mempunyai peran sendiri-sendiri, dalam membentuk kepribadian para remaja.

Khusus untuk kasus kekerasan yang terjadi di SMPN 3, semua pihak baik keluarga maupun sekolah harus bijak dalam menyikapinya. Pemberian sangsi pada para pelaku, juga harus dilakukan secara proporsional dan mendidik. Jangan sampai sangsi yang ada justru menjadi pemicu terjadinya pemberontakan pada diri remaja.

“Seorang remaja jika dilarang, justru akan memberikan perlawanan sama kuatnya dengan larangan yang diberikan,” ungkapnya. tom-Ct

http://nasional.vivanews.com/news/read/30736-polisi_ringkus_geng_pelajar_putri

Polisi Ringkus Geng Pelajar Putri

Suka kebut-kebutan. Aksi perkelahian mereka terekam dalam video dan telah beredar luas.

SELASA, 17 FEBRUARI 2009, 08:36 WIB

Nurlis E. Meuko

VIVANews-Kepolisian Sektor Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur menangkap dua komplotan pelajar cewek yang membentuk geng. Anggota kedua kelompok geng ini berasal dari tiga sekolah menengah atas. Komplotan remaja putri ini terkenal gemar berkelahi.

Salah satu kelompok itu bernama Anastasia, mereka berasal dari Sekolah Menengah Atas Negeri I Kupang. Satu lagi geng diberi label Aroyo, mereka adalah remaja putri dari SMA Negeri 5 dan SMK Negeri 1 Kupang.

“Kelompok Anastasia berjumlah sembilan orang, dan kelompok Aroyo tiga orang. Semua sudah ditahan,” kata Ajun Komisaris Jance Seran, Kepala Polsek Oebobo, Selasa 17 Februari 2009. “Ada 23 siswa lainnya yang kini sedang diminta keterangan.”

Jance menjelaskan, mereka ditangkap setelah video perkelahian antar geng itu beredar luas.  Video berdurasi dua menit ini direkam menggunakan kamera telepon selular oleh seorang siswa yang kebetulan menyaksikan perkelahian itu.

Menurut Jance, kelompok itu sudah dua kali terlibat perkelahian selama Februari 2009. Perkelahian pertama terjadi pada 4 Februari di kompleks perumahan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) NTT di Kelurahan Oetete. Kemudian terulang lagi pada 7 Februari di kompleks SD Negeri Oetete III.

Kepala SMA Negeri I Kupang Marthen Kiki mengatakan, pemicu bentrokan antargeng akibat salah paham. “Awalnya mereka kebut-kebutan dengan sepeda motor, ada yang kena sengol kemudian terjadi perkelahian,” katanya.

Menurutnya, sekolah telah memberikan sanksi disiplin bagi kelompok geng Anastasia. Mereka dilarang mengikuti aktivitas belajar di sekolah selama beberapa waktu. “Karena perkelahian itu terjadi di luar kompleks sekolah, jadi bukan tanggung jawab sekolah. Kami serahkan kepada polisi,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Thobias Uly meminta aparat kepolisian mengusut kasus yang melibatkan para pelajar perempuan itu sampai tuntas. “Sekolah silahkan mengambil tindakan sesuai degan aturan yang berlaku,” katanya.

Laporan: Jemris Fointuna | Kupang

• VIVAnews



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: